aespesoft.com

Sumber Daya Kefarmasian

Salah satu cara agar pelayanan apotek di klinik agar lebih efisien adalah menggunakan aplikasi komputer, salah satu penyedianya adalah situs ini, software tersebut adalah aplikasi komputer untuk apotek, bisa dibaca lebih jauh di : https://aespesoft.com/software-apotek/.

Berikut adalah informasi tentang sumber daya kefarmasian berdasar PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

Sumber daya kefarmasian terbagi dua yaitu sumber daya manusia dan sarana/prasarana

A.  Sumber Daya Manusia

Pelayanan Kefarmasian di Apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dapat dibantu  oleh  Apoteker  pendamping  dan/atau  Tenaga  Teknis Kefarmasian  yang  memiliki  Surat  Tanda  Registrasi,  Surat  Izin  Praktik atau Surat Izin Kerja.

Dalam  melakukan  Pelayanan  Kefarmasian  Apoteker  harus  memenuhi kriteria:

1. Persyaratan administrasi
a.  Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi
b.  Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
c.  Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku
d.  Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

2. Menggunakan  atribut  praktik  antara  lain  baju  praktik,  tanda pengenal.

3. Wajib  mengikuti  pendidikan  berkelanjutan/Continuing  Professional Development  (CPD)  dan  mampu  memberikan  pelatihan  yang berkesinambungan.

4. Apoteker  harus  mampu  mengidentifikasi  kebutuhan  akan pengembangan  diri,  baik  melalui  pelatihan,  seminar,  workshop, pendidikan berkelanjutan atau mandiri.

5. Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang  undangan,  sumpah  Apoteker,  standar  profesi  (standar pendidikan,  standar  pelayanan,  standar  kompetensi  dan  kode  etik) yang berlaku.

Dalam  melakukan  Pelayanan  Kefarmasian  seorang  apoteker  harus menjalankan peran yaitu:

a. Pemberi layanan
Apoteker  sebagai  pemberi  pelayanan  harus  berinteraksi  dengan pasien.  Apoteker  harus  mengintegrasikan  pelayanannya  pada  sistem pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.

b. Pengambil keputusan
Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan dengan  menggunakan  seluruh  sumber  daya  yang  ada  secara  efektif dan efisien.

c. Komunikator
Apoteker  harus  mampu  berkomunikasi  dengan  pasien  maupun profesi  kesehatan  lainnya  sehubungan  dengan  terapi  pasien.  Oleh karena itu harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.

d. Pemimpin
Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan  yang  diharapkan  meliputi  keberanian  mengambil keputusan  yang  empati  dan  efektif,  serta  kemampuan mengkomunikasikan dan mengelola hasil keputusan.

e. Pengelola
Apoteker  harus  mampu  mengelola  sumber  daya  manusia,  fisik, anggaran  dan  informasi  secara  efektif.  Apoteker  harus  mengikuti kemajuan teknologi informasi dan bersedia berbagi informasi tentang Obat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Obat.

f.  Pembelajar seumur hidup
Apoteker  harus  terus  meningkatkan  pengetahuan,  sikap  dan keterampilan  profesi  melalui  pendidikan  berkelanjutan  (Continuing Professional Development/CPD)

g. Peneliti
Apoteker  harus  selalu  menerapkan  prinsip/kaidah  ilmiah  dalam mengumpulkan  informasi  Sediaan  Farmasi  dan  Pelayanan Kefarmasian  dan  memanfaatkannya  dalam  pengembangan  dan pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian.

B.  Sarana dan Prasarana

Apotek  harus  mudah  diakses  oleh  masyarakat.  Sarana  dan  prasarana  Apotek  dapat  menjamin  mutu  Sediaan  Farmasi,  Alat  Kesehatan,  dan Bahan  Medis  Habis  Pakai  serta  kelancaran  praktik  Pelayanan Kefarmasian.

Sarana  dan  prasarana  yang  diperlukan  untuk  menunjang  Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi:

1. Ruang penerimaan Resep
Ruang  penerimaan  Resep  sekurang-kurangnya  terdiri  dari  tempat penerimaan  Resep,  1  (satu)  set  meja  dan  kursi,  serta  1  (satu)  set komputer. Ruang penerimaan Resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.

2. Ruang  pelayanan  Resep  dan  peracikan  (produksi  sediaan  secara terbatas)
Ruang pelayanan Resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan  Obat,  air  minum  (air  mineral)  untuk  pengencer,  sendok Obat, bahan pengemas Obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko  salinan  Resep,  etiket  dan  label  Obat.  Ruang  ini  diatur  agar mendapatkan  cahaya  dan  sirkulasi  udara  yang  cukup,  dapat dilengkapi dengan pendingin ruangan (air conditioner).

3. Ruang penyerahan Obat Ruang penyerahan Obat berupa konter penyerahan Obat yang dapat digabungkan dengan ruang penerimaan Resep.

4. Ruang konseling
Ruang  konseling  sekurang-kurangnya  memiliki  satu  set  meja  dan kursi konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat bantu  konseling,  buku  catatan  konseling  dan  formulir  catatan pengobatan pasien.

5. Ruang  penyimpanan  Sediaan  Farmasi,  Alat  Kesehatan,  dan  Bahan Medis Habis Pakai
Ruang  penyimpanan  harus  memperhatikan  kondisi  sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan  rak/lemari  Obat,  pallet,  pendingin  ruangan  (AC),  lemari pendingin,  lemari  penyimpanan  khusus  narkotika  dan  psikotropika, lemari penyimpanan Obat khusus, pengukur suhu dan kartu suhu.

6. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan  pengelolaan  Sediaan  Farmasi,  Alat  Kesehatan,  dan  Bahan Medis Habis Pakai serta Pelayanan Kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.

Software Klinik Dan Software Apotek
[Ad] Manajemen Inventori, Rekam medis, Billing dan Kasir/POS, Garansi Error Seumur Hidup Saya !
Harga Rp 2 Juta untuk software klinik dan Rp 950rb untuk software apotek, Silakan Mampir
www.aespesoft.com

Exit mobile version